Mande(h) Mulai Menangis

Oleh Andrinof A Chaniago

Memasuki Januari 2020 ini genap juga satu tahun berfungsinya jalan bagus sepanjang 43 kilometer yang membentang dari Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Bungus, Kota Padang, hingga Nagari Ampang Pulai, Kecamatan Tarusan, Pesisir Selatan. Jalan yang dibangun dengan tujuan untuk menghidupkan Kawasan Mandeh menjadi kawasan wisata ini dibuat dengan pertimbangan potensinya sebagai salah satu kawasan pantai terindah di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Kualitas jalan aspal yang sebagian besar dilengkapi bahu jalan dengan coran beton ini termasuk jalan dengan kualitas terbaik di Indonesia dan juga yang terbaik diantara jalan kawasan-kawasan wisata yang baru dibagun di Indonesia. Sekedar perbandingan, Kawasan Labuan Bajo, di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, yang tiga tahun terakhir makin ramai dikunjungi turis dalam dan luar negeri, belum memiliki jalan aspal mulus seperti Kawasan Mandeh.

Dampak positif dari jalan yang dibangun atas perintah Presiden Jokowi kepada Menteri PUPR pada 10 Oktober 2015 itu telah dirasakan masyarakat setempat maupun pengunjung Kawasan Mandeh. Semenjak jalan Kawasan Mandeh ini selesai akhir Desember 2018 lalu, waktu tempuh dari pusat Kota Padang ke Kawasan Mandeh menjadi hemat satu setengah jam, dari semula dua jam empat puluh lima menit menjadi satu jam lima belas menit. Warga di dua nagari, yakni Nagari Mandeh dan Sungai Nyalo yang ingin bepergian ke Tarusan atau ke Kota Padang tidak perlu lagi naik perahu dulu ke dermaga tua di Carocok. Warga Sungai Pinang kini juga lebih mudah bepergian ke Kota Padang atau ke Tarusan. Anak-anak dan guru-guru SMP Negeri Sungai Nyalo tidak perlu lagi berjuang melewati laut pergi dan pulang ke sekolah tersebut. Perjalanan mereka sehari-hari tidak lagi dihadapkan kendala cuaca di laut.

Awal November 2019 lalu, jalan Kawasan Wisata Mandeh juga sudah langsung dimanfaatkan untuk salah satu ruas etape even besar Tour de Singkarak yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 11 November. Sebelumnya, tanggal 3 Maret 2019, di lintasan ini juga sudah digelar sebuah even lomba lari internasional bernama BRI Mandeh Run. Tanpa jalan aspal mulus yang dibangun selama hampir tiga tahun itu tentu tidak mungkin even-even seperti itu bisa diadakan di kawasan ini.

Selain mengubah moda transportasi warga di tiga nagari di Kawasan Mandeh, kehadiran jalan baru Kawasan Wisata Mandeh dengan seketika membuat melonjaknya pengunjung berkendaraan roda empat dan roda dua untuk tujuan berwisata ke kawasan ini. Di siang hingga sore setiap Sabtu-Minggu dan hari libur lainnya, jika kita menelusuri jalan baru Kawasan Wisata Mandeh dari arah Sungai Pisang hingga tembus kembali ke Jalan Raya Padang-Painan di Tarusan, atau sebaliknya, kita akan bertemu 10 (sepuluh) titik konsentrasi kendaraan wisatawan yang berhenti untuk menikmati pemandangan dan melakukan aktifitas wisata jaman now, yakni berselfie dan berwefie ria. Empat titik konsentrasi akan ditemukan di ruas antara Sungai Pinang dan Sungai Nyalo dengan latar belakang laut lepas dan Pulau Marak. Sedangkan 6 (enam) titik lainnya akan ditemukan di ruas antara Sungai Nyalo hingga Puncak Mandeh. Titik-titik yang dipadati kendaraan parkir di ruas ini adalah: Puncak Paku, Puncak Indah, Puncak Nona, Nagari Mandeh, Sungai Gemuruh dan Puncak Mandeh. Ini belum termasuk beberapa tikungan lainnya yang juga selalu dijadikan tempat berhenti kendaraan pengunjung dan di pantai Sungai Nyalo, lokasi berdirinya bangunan ampihtheatre untuk pertunjukan seni budaya.

“Sang Ibu” Mulai Menangis
Kalau benar nama Mandeh ini berasal dari kata “mande” yang berarti ibu, maka ibu yang dulu dengan susah payah mengandung dan berjuang melahirkan itu kini sedang gelisah antara merasakan kegembiraan dan kecemasan. Gembira tentu saja karena kini banyak orang bersuka cita dengan populernya Kawasan Wisata Mandeh dan, terlebih, setelah selesainya dibangun jalan baru di kawasan ini kegiatan ekonomi warga tumbuh pesat. Pengunjung yang datang bersuka cita karena bisa menikmati alam yang begitu indah dengan murah meriah. Warga setempat bersuka cita karena kesempatan berusaha dan bekerja tumbuh dengan cepat. Sebagian warga juga bersuka cita karena harga tanahnya naik 10 kali lipat dalam 4 tahun. Banyak rumah warga yang berubah menjadi cerah dan rumah-rumah modern yang kokoh muncul yang dibangun dari hasil penjualan tanah atau dari peningkatan penghasilan dari warung dan usaha lainnya.

Tetapi, setelah setahun jalan baru berfungsi, wajah Mandeh pun mulai mencemaskan. Sumber kecemasan pertama akan kita temukan apabila kita menyisir dengan perlahan jalan baru ini sambil memperhatikan area di pinggir kiri-kanan jalan. Hampir sepanjang jalan tampak berserakan bekas bungkus dan kemasan makanan minuman yang sebagian terlihat memutih dan sebagian berwarna-warni. Selain itu, banyak titik-titik yang merupakan lokasi sangat bagus untuk melihat pemandangan ditutupi oleh bangunan-bangunan murahan yang berfungsi sebagai warung makanan dan minuman. Di titik lain, ada juga mobil warung yang menggelar jualan seenaknya berikut tanda lipatnya.
Sumber kesedihan wajah Mandeh lainnya adalah kalau kita berkeliling dengan boat wisata di perairan Kawasan Mandeh. Disamping sampah dedaunan dan kayu-kayuan yang berasal dari muara sungai, sampah ulah manusia makin banyak mengapung di hamparan laut Kawasan Mandeh yang sudah diberi predikat sebagai “Surga Tersembunyi” oleh para Netizen pada tahun 2017 lalu.

Penyakit ulah manusia tadi jelas sedang mengancam keelokan Kawasan Mandeh yang secara alami termasuk kawasan wisata pesisir terindah di dunia. Mental main serobot lokasi untuk umum untuk menggelar dagangan makanan-minuman dengan alasan “mencari makan”, dan mental tanpa rasa dosa membuang sampah sembarangan, benar-benar tengah menjadi ancaman utama terhadap keindahan kawasan wisata ini.

Penyakit kedua kelompok masyarakat ini, yakni pelaku usaha dengan mental penyerobot, dan pengunjung yang datang dengan kendaraan-kendaraan volume sampah sudah sangat memprihatinkan, dan kecenderungan main serobot lokasi untuk berdagang belum hilang, bisa dipastikan Sang Ibu, Mande(h) akan meratap. Mande(h) akan meratapi perilaku orang-orang yang hanya mencari untung dan mencari senang tetapi dengan merugikan orang banyak serta mengancam masa depan Mandeh. Ujungnya, kita akan mengulang cerita lama, yakni membangga-banggakan keindahan alam Sumatera Barat tapi tidak sadar setiap kesempatan emas hilang karena mental buruk sejumlah pihak.

Catatan:.

(Tulisan ini sudah dimuat di portal hariansinggalang.com edisi Kamis, 2 Januari 2020)

(penulis Spesialis Perencanaan Strategis)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *